Tips Sukses Membuat Aplikasi Mobile

 

Aplikasi untuk piranti mobile bak jamur di musim hujan. Hal ini membuat persaingan kian sengit di antara para developer. Jika tidak menonjol, bukan tak mungkin suatu aplikasi ‘tenggelam’ di antara yang lain. Itulah salah satu fenomena dalam industri aplikasi mobile yang disampaikan oleh Andri Yadi, CEO Dycode dan kreator aplikasi Movreak dalam acara talk show Ngopi Bareng detikINET, Kamis (26/9/2013).

“Sekarang ini pesaingnya banyak banget. Kebanyakan aplikasi sudah ada di apps store. Kita harus stand out,” tukasnya.

Iapun menganjurkan agar developer mempunyai semacam personality untuk aplikasinya. Adapun ide dalam pembuatan aplikasi bisa didapat dari permasalahan yang dijumpai sendiri atau dari kondisi sekitar. Yadi mencontohkan bahwa sebelum membuat aplikasi Movreak yang berisi jadwal tayang film di bioskop, ia adalah seorang pecinta film dan merasa kesulitan saat mencari jadwal bioskop kala itu.

Ia menuturkan, kelahiran piranti iPhone yang mempopulerkan mobile apps, membuatnya terpicu untuk membesut aplikasi ini. “Dengan adanya keperluan tadi, coba deh bikin. Kebetulan waktu itu di iPhone belum ada pemainnya di Indonesia, jadi kita yang pertama bikin. Dari situ coba men-solve masalah pribadi, jadi kita bikin yang bagus. Tahun 2010 waktu itu,” tambah Yadi.

“Mulai dari idenya dulu, masalahnya di mana, dari situ tergantung expertise kita,” urainya. Lantas, mencari partner adalah langkah selanjutnya yang sebaiknya dilakukan developer.

“Cobalah cari partner, yang paling dekat designer, wajib itu buat developer,” ucap Yadi di The Only One Club, FX Plaza, Jakarta Pusat.

Partner juga penting untuk memasarkan sebuah aplikasi. Yadi menambahkan, sebenarnya sah-sah saja jika developer ingin mengembangkan aplikasinya sendiri, namun harus menyiapkan budget yang besar. “Kalaupun melakukan sendiri, butuh budget yang besar. Intinya butuh partner. Principal, telco, dan lain-lain daripada melakukannya sendiri,” urai pria ini.

Berbicara mengenai copycat yang kerap terjadi di antara para developer, Yadi mengatakan bahwa hal itu sebenarnya tidak masalah, asalkan memiliki nilai tambah. “Nggak masalah kalo punya value added dan personality,” pungkasnya.

 

 

Sumber